RSS

Hanya Pengalaman


Ketika burung-burung mulai berkicau dan matahari mulai menampakkan sinarnya, maka tibalah saatnya aku harus bangun dari mimpi indahku .Tak kala sayup mataku yang masih setengah bangun, aku menoleh kearah benda yang berdentang itu. Jam itu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Oh, aku tidak terlalu kesiangan ternyata. Tapi aku teringat akan suatu hal, “Oh God! Hari ini aku harus mendaftar ke SMA 1 Karimun”. Secepat kilat aku menarik handuk dari gantungannya dan langsung ngeloyor ke kamar mandi. Setelah semua persiapan sudah beres, aku langsung berpamitan kepada kedua orangtua dan meminta doa mereka agar registrasiku di SMA pilihanku ini berjalan dengan lancar. Setelah surat-suratku diterima oleh bagian administrasi, aku dipersilahkan untuk pulang dan bersiap-siap untuk mengikuti test di keesokan harinya. Aku pun pulang dengan perasaan sukacita. Sesampainya di rumah, aku langsung belajar untuk persiapan besok.
Keesokan harinya, test pun dimulai. Aku mulai mengerjakan soal dengan serius. Setelah berhasil mengerjakan semua soal-soal yang ada dihadapanku, bel pertanda berakhirnya test pun berbunyi. “fyuh. Untung tepat waktu”,ujarku. Setelah test berakhir, aku pun pulang ke rumah dengan perasaan yang tak tentu. Aku takut melihat hasil testku yang dikabarkan akan diterbitkan besok. Namun, karena dorongan dari papa dan mama, aku pun bisa sedikit merasa tenang.
Tepat di saat hasil test keluar, aku terlonjak kaget dengan hasil test yang ada dihadapanku. “hahh???? Gak salah meriksa ya ini?? Aku peingkat ke-3 dari ratusan murid? Unbelievable!”, celotehku seraya tak percaya dengan apa yang kulihat. Teman-temanku memberikan ucapan selamat kepadaku. Aku masih diam terpaku melihat papan pengumuman dihadapanku. Setelah sadar dari keterpakuan, aku segera mencari salah seorang sahabatku (Tiara). “Itu dia !”, pekikku seraya dia menoleh ke arahku. “Deee. . kita lulus test!!”pekiknya. Kami pun berpelukan karena tidak menyangka akan satu sekolah lagi setelah bersama-sama selama 2,5 tahun di SMP 1 Karimun. Lalu, kami kembali menatap papan pengumuman. Ada satu point yang tidak kami perhatikan dari tadi. WAKTU REGISTRASI ULAAAANNGGG !. Ternyata 3 hari seteleh hasil test diterbitkan.
3 hari kemudian, aku dan mamaku pergi ke SMA 1 Karimun untuk mendaftar ulang sekaligus membayar segala biaya termasuk pakaian seragam, dll. Setelah semua selesai di bayar, aku dan mamaku pun beranjak pulang. Namun di tengah perjalanan, mama mengajakku untuk makan es gunung di salah satu restorant favorit kami. Disana, kami bercerita banyak hal tentang persiapan masuk sekolahku. Gimana enggak, aku udah gak make putih-biru lagi gituloh. Setelah berbincang-bincang untuk waktu yang cukup lama, akhirnya aku dan mama memutuskan untuk pulang ke rumah.
Pada malam harinya, seluruh anggota keluarga kami yang terdiri dari papa, mama, aku dan abangku berkumpul di ruang tamu. Papa membuka topic pembicaraan. “3 hari lagi, tepatnya hari Jumat, kita pindah ke Pematangsiantar”, kata papa. Aku terlonjak kaget dan tidak tahu kenapa, aku bungkam, tidak bisa berkata apapun. “Packing semua barang-barang kalian ya, jangan sampai ada yang ketinggalan”, tambah papa. Setelah itu, aku masuk ke kamar, dan mengunci pintu kamar seolah aku memberikan peringatan “Aku Tidak Mau Diganggu”. Aku duduk terpaku di atas ranjangku. Tanpa kusadari, air mataku sudah membasahi pipiku. Aku menangis di atas kepedihan yang mendalam. “Apakah ini mimpi? Aku tidak pernah menginginkan ini untuk terjadi”, gerutuku dalam hati. Tapi, apa daya, aku tidak bisa mengubah apapun yang sudah menjadi takdir untuk kelanjutan kehidupanku. Aku harus meninggalkan sekolah pilihanku, sahabat-sabahatku dan teman-temanku.
Keesokan harinya, aku diajak papa dan mama ke SMA 1 Karimun untuk mengurus kepindahan. Mengurus kepindahan tidak memakan waktu yang cukup lama. Setelah semuanya selesai, kami pun pulang dan kembali beres-beres dan packing barang-barang.
H-1 : Aku bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi sebagai pertemuan terakhir dan ucapan selamat tinggal. Sedih sekali hatiku untuk meninggalkan mereka. Tapi, walau bagaimanapun, aku harus bisa menerima kenyataan tentang keadaanku sekarang.
Tepat pukul 07.00 WIB, kami menuju pelabuhan untuk berangkat ke Batam. Perjalanan memakan waktu 1  jam. Di dalam perjalanan, aku menghabiskan waktu untuk menangis sambil bermain game di laptop agar tidak ada sepasang mata pun yang menoleh ke arahku. Setelah 1,5 jam berlalu, kami pun sampai di pelabuhan Batam. Ternyata mobil jemputan sudah stand by di pelabuhan yang bersedia untuk mengantarkan kami ke Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. Sesampainya di bandara, kami langsung masuk untuk check in. Kami menunggu sekitar 1-2 jam untuk keberangkatan. Setelah lama menunggu, akhirnya pesawat yang kami tunggu-tunggu datang juga. Perjalanan dari Batam ke Medan memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Aku menghabiskan waktu untuk tidur selama di pesawat karena tidak kuat akan lelah yang ku rasa. Aku tersadar ketika mama menggoyang-goyangkan tubuhku seraya membangunkanku dari tidur yang lelap. “Kita sudah sampai di Medan”, ucap mama. Aku pun terhenyak dalam pilu, “Ternyata aku sudah meninggalkan Kepulauan Riau ”, lirihku dalam hati. Kami pun segera beranjak keluar pesawat. Setibanya di luar bandara, kami langsung mencari mobil yang menuju Pematangsiantar. Perjalanan dari Medan ke Pematangsiantar memakan waktu +/- 3 jam (wow. Lama juga ya ). Setelah sampai di Pematangsiantar, aku langsung melihat seudut kota dengan saksama dari dalam mobil. “Ini toh Siantar”, ujarku. Setelah lumayan lama berkeliling, akhirnya kami sampai di salah satu penginapan “Humanitas”. Untuk sementara waktu kami tinggal disini(+/- 1 minggu) karena kami belum mendapatkan rumah untuk dihuni. Kami pun menghabiskan 1 hari di penginapan untuk beristirahat karena capek yang melanda sangatlah dahsyat.
Pagi harinya, papa mengajak aku dan abangku,Arka untuk mendaftar di sekolah yang baru. Sekolah pilihan papa saat itu ada SMA 2 Pematangsiantar. Setelah melewati beberapa prosedur, akhirnya kami diterima di SMA 2 Pematangsiantar. Tapi sayangnya, aku tidak bisa masuk di hari yang sama dengan abangku dikarenakan ada beberapa urusan tentang surat-menyuratku yang belum selesai. Aku harus sabar menunggu. Tapi, ternyata penantianku tidaklah panjang. Aku di suruh datang ke sekolah tepat 1 hari setelah abangku masuk sekolah. Aku ditempatkan di kelas X-2. Pada saat itu, aku dipersilahkan duduk di bangku paling depan oleh teman-teman baruku. Ternyata, mereka sangat baik dan friendly. Ini merupakan kesan pertama yang baik bagiku.
Setelah +/- 3 bulan belajar di kelas X-2, tiba-tiba ibu RM (PKS 1) masuk ke kelas untuk mendata dan memindahkan siswa/i ke kelas X-1 dikarekan kelas X-1 masih kekurangan murid. Aku pasrah dalam hati. Mana mungkin seorang anak pindahan yang masuk tanpa mengikuti test dapat dipindahkan ke kelas yang katanya “unggulan” tersebut. Namun, aku tersentak ketika beberapa teman-temanku menyebutkan namaku sebagai salah satu siswi yang pintar di kelas itu. Aku terdiam. Apakah ini sebuah keajaiban untukku? Setelah Bu RM bertanya kepada tentang keputusanku untuk ingin bergabung dengan kelas tetangga atau tidak, aku seraya mengangguk dan berkata,”Iya, bu. Saya mau”.
Suasana kelas baru yang kurasa membuatku agak sedikit dongkol. Aku harus duduk di bangku paling belakang yang penduduknya mayoritas cowok semua. Tapi, no problem. Ini takkan bertahan lama. Ternyata benar. Aku tidak terlalu lama duduk di bangku panas itu. 1 bulan belajar di kelas itu, aku bisa bertukar tempat duduk dengan salah satu teman cowok yang bersedia memberikan bangkunya untukku.
Waktu pun bergulir dan aku pun mulai beradaptasi full dengan teman-teman baruku di kelas X-1 ini. Mereka sangat asik di ajak bercerita. Aku senang bisa berteman dengan mereka. berbagai macam karakter unik aku temukan di kelas ini.
Di kelas X-1 ini mengisahkan padaku banyak kenangan. Dan di kelas inilah aku kenal dengan seseorang yang memikat hatiku. Pengenalan berawal dari facebook. Penilaian pertama yang bisa kuutarakan untuk sosok ini adalah “sok”. Tapi lambat laun waktu bergulir, kami menjadi semakin akrab setelah terjadinya adegan kirim-mengirim lagu dan persepsiku yang dulu seakan terkikis oleh waktu. Hingga akhirnya kami bersama. Namun, tidak bertahan cukup lama karena dia pergi ke suatu daerah yang lumayan jauh untuk dicapai. Dan kami memutuskan untuk berpisah. Tapi ingatlah suatu hal, “kunci”. Kunci yang pernah kuberikan padamu. Ku harap kau masih mengimpannya hingga saat ini. Dan gembok yang ada padaku, akan selalu terkunci hingga kau sendiri yang akan membukanya dengan kuncimu itu. (kok jadi curcol ya? Haha)
Hari demi hari, waktu demi waktu telah kulewati di sekolah. Aku merasa senang sekali karena bisa mempunyai banyak teman dan pengalaman baru .Aku berharap aku bisa bertemu dengan mereka semua, kelak setelah lulus SMA . . . amiinn

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar